Sakaratul Maut Keniscayaan yang Tak Bisa Dihindari
Sakaratul Maut Keniscayaan yang Tak Bisa Dihindari
 

Membahas tentang sakaratul maut berarti membahas tentang proses sebelum kematian, yaitu kondisi yang menyakitkan ketika ruh ditarik keluar dari jasad. Sakaratul maut adalah kondisi yang pasti akan dilalui oleh setiap yang bernyawa, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati, sebagaimana apa yang sudah Allah tetapkan dalam firman-Nya,


 كُلُّ ‌نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ 

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati"

(QS Ali 'Imran: 185)


Siapa pun orangnya, apa pun jabatannya, ke mana pun dia pergi, dia pasti akan mati ketika sudah tiba ajalnya. Walaupun seluruh dokter datang untuk mengobati orang tersebut, hal itu tidak akan membuatnya hidup kembali atau menambah umurnya meski hanya satu detik.


 
 

Allah berfirman,

 

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ ‌لَا ‌يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ٣٤

"Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan."

(QS Al-A'raf: 34)


Ada sesuatu yang layak kita renungkan tentang sakaratul maut, bukan sekadar soal kematian, tetapi tentang bagaimana roh yang telah menyatu dengan tubuh perlahan meninggalkan setiap inci raga kita. Kita tak pernah benar-benar tahu wujudnya, hanya bisa merasakan kehadiran dan kepergiannya.

Ada yang mengharap ajal dalam tidur tanpa rasa sakit, tanpa kesadaran bahwa nyawanya telah dicabut. Bagi kita yang menyaksikan, itu tampak begitu tenang, seolah kehidupan berakhir dalam kelembutan yang tak terlukiskan. Namun, apakah orang tersebut tidak merasakan sakit saat nyawanya berpisah dari tubuh? Bagaimana sebenarnya proses itu terjadi?

Terkadang kita ada di sana, di sisi orang yang kita cintai, orang tua, saudara, atau sahabat saat detik-detik terakhirnya. Kita tak bisa melihat nyawa yang pergi, tapi kita menyaksikan tanda-tandanya, tubuh yang perlahan kehilangan kehangatan, kaki yang terasa dingin saat disentuh, napas yang semakin berat hingga akhirnya berhenti. Semua itu nyata di hadapan kita, namun tetap menyimpan misteri yang tak bisa sepenuhnya kita pahami.

Aisyah radhiallahu anha menceritakan bagaimana saat-saat terakhir manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini, manusia yang paling Allah cintai. Saat-saat terakhir menjelang kematian Rasulullah , beliau berkata,

 

إِنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فجعل يدخل يده في الماء فيمسح بها وَجْهَهُ وَيَقُولُ: (‌لَا ‌إِلَهَ ‌إِلَّا ‌اللَّهُ ‌إِنَّ ‌لِلْمَوْتِ ‌سَكَرَاتٍ). ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ: (فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى). حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ يَدُهُ

"Sesungguhnya Rasulullah saat itu berada di hadapan sebuah bejana kecil berisi air. Beliau kemudian memasukkan tangannya ke dalam air dan mengusapkannya ke wajah sambil berkata, “La ilaha illallah, sungguh kematian itu memiliki sekarat (sakaratul maut yang berat” Lalu, beliau mengangkat tangannya dan terus mengucapkan, “Ke (perjalanan menuju) Ar-Rafiq Al-A'la (Teman Tertinggi, yakni Allah)” Hingga akhirnya ruh beliau dicabut, dan tangan beliau perlahan terjatuh."

(HR Bukhari: 6145)

 

Hadis ini menggambarkan bahwa sakaratul maut bukanlah proses yang mudah, bahkan bagi Rasulullah , manusia paling mulia dan paling dicintai Allah . Di saat-saat terakhirnya, beliau merasakan beratnya perpisahan antara ruh dan jasad, hingga harus membasahi wajahnya dengan air untuk sedikit meringankan beban yang dirasakan. Namun, di tengah beratnya perpisahan itu, beliau tetap mengingat Allah , mengucapkan kalimat tauhid, dan mengarahkan hatinya hanya kepada-Nya. Hingga detik terakhir, Rasulullah memilih "Ar-Rafiq Al-A'la," menunjukkan bahwa kerinduannya kepada Allah lebih besar daripada rasa sakit yang beliau alami.

Dalam hadis lain juga dikisahkan bagaimana Fatimah radhiallahu anha mendampingi beliau menjelang kematian. Dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau berkata,

 

لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَامُ: وَا ‌كَرْبَ ‌أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا: لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ الْيَوْمِ فَلَمَّا مَاتَ قَالَتْ: يَا أَبَتَاهُ أَجَابَ رَبًّا دَعَاهُ يَا أَبَتَاهْ مَنْ جَنَّةُ الْفِرْدَوْسِ مَأْوَاهْ يَا أَبَتَاهْ إِلَى جِبْرِيلَ نَنْعَاهُ فَلَمَّا دُفِنَ قَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَامُ: يَا أَنَسُ أَطَابَتْ أَنْفُسُكُمْ أَنْ تَحْثُوا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التُّرَابَ

"Ketika Nabi mulai merasa berat (sakit menjelang wafatnya), beliau berada dalam kondisi yang membuatnya merasakan sakaratul maut. Lalu Fatimah berkata, 'Wahai Ayahku, betapa berat penderitaanmu!' Maka Rasulullah pun menjawab, “Tidak ada lagi penderitaan bagi ayahmu setelah hari ini”.

 

“Ketika Rasulullah wafat, Fatimah berkata, “Wahai Ayahku, engkau telah memenuhi panggilan Tuhan yang menyerumu. Wahai Ayahku, surga Firdaus adalah tempat tinggalmu. Wahai Ayahku, kepada Jibril kami menyampaikan berita kepergianmu.”

 

“Lalu, ketika Rasulullah telah dimakamkan, Fatimah bertanya kepada Anas bin Malik, “Wahai Anas, bagaimana hati kalian merasa tenang untuk menaburkan tanah di atas jasad Rasulullah ?”  

(HR Bukhari: 4462)

 

Kisah wafatnya Rasulullah menggambarkan betapa sakaratul maut adalah pengalaman yang nyata, meskipun hanya yang mengalaminya yang benar-benar merasakan bagaimana ruh perlahan meninggalkan jasad.

Kita yang masih hidup hanya bisa menyaksikan tanda-tandanya dan mengambil pelajaran untuk bersiap-siap sebaik mungkin. Sebab, bagi seorang mukmin, sakaratul maut bukanlah akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan yang lebih kekal, sebagaimana yang beliau sampaikan kepada Fatimah. Setelah hari itu, tidak ada lagi penderitaan, karena kehidupan sejati baru saja dimulai,

 

وَجَآءَتۡ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ ١٩
"(Seketika itu) datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari."

(QS Qaf: 19)

 

Ayat ini mengingatkan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, tidak peduli seberapa keras seseorang mencoba menghindarinya. Ada yang berpikir bahwa dengan memiliki harta melimpah, mereka bisa terhindar dari sakaratul maut. Ada yang merasa bahwa dengan meraih kekuasaan tertinggi, menjadi pejabat, raja, atau penguasa, mereka bisa selamat darinya. Namun kenyataannya, tidak ada seorang pun yang mampu menghindar.

Sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang terkaya di dunia, pemimpin yang berkuasa selama puluhan tahun, semuanya tetap menghadapi sakaratul maut. Ada yang bertahan di tampuk kekuasaan selama 40 tahun, ada yang memimpin selama 32 tahun, tetapi pada akhirnya semua berakhir dengan kepastian yang sama. Lalu, ke mana manusia bisa lari? Tidak ada tempat untuk menghindar.

Allah berfirman,

 

قُلۡ ‌إِنَّ ‌ٱلۡمَوۡتَ ‌ٱلَّذِي تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمۡۖ
"
Katakanlah, 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemuimu”

(QS Al-Jumu'ah: 8)

 

Dalam ayat lain Allah berfirman,

 

كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِيَ ٢٦ وَقِيلَ مَنۡۜ رَاقٖ ٢٧ وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلۡفِرَاقُ ٢٨ وَٱلۡتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ ٢٩ إِلَىٰ رَبِّكَ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡمَسَاقُ ٣٠
"
Sekali-kali tidak! Apabila (nyawa) telah sampai di kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa yang (dapat) menyembuhkan?' Dia pun yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan). Hal itu menggambarkan hebatnya penderitaan pada saat akan mati serta ketakutan akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat. Kepada Tuhanmulah pada hari itu (manusia) digiring."

(QS Al-Qiyamah: 26-30)

 

Ayat ini menggambarkan detik-detik terakhir kehidupan manusia, saat nyawa sudah mencapai tenggorokan. Pada saat itu, orang yang sedang sekarat, keluarganya, bahkan dokter yang merawatnya masih berharap ada jalan untuk bertahan.

 

Dokter mungkin berusaha sekuat tenaga menyelamatkan pasien dari penyakit, tetapi tidak ada yang bisa menyelamatkan seseorang dari kematian.

 


Ketika segala upaya medis sudah tidak lagi berdaya, orang mulai mencari alternatif seperti terapi, ruqyah, atau cara lainnya, tetapi semua itu tetap tidak bisa menunda apa yang sudah pasti. Sebab, ketika sakaratul maut tiba, tidak ada satu pun yang bisa menolong ataupun menunda.

Syaddad bin Aus, salah seorang sahabat Rasulullah , pernah menggambarkan kematian. Beliau berkata,

 

الموت أقطع ‌هول ‌في ‌الدنيا ‌والاخرة على المؤمن والموت أشد من نشر بالمناشير وقرض بالمقاريض وغلي في القدور ولو أن الميت نشر فأخبر أهل الدنيا بألم الموت ما انتفعوا بعيش ولا لذوا بنوم

"Kematian adalah kengerian terbesar di dunia dan di akhirat bagi orang beriman. Kematian lebih menyakitkan daripada dipotong dengan gergaji, dicincang dengan gunting besi, dan direbus dalam air mendidih. Seandainya orang yang telah mati dibangkitkan kembali lalu menceritakan kepada penduduk dunia tentang pedihnya kematian, mereka tidak akan bisa menikmati kehidupan dan tidak akan merasakan nikmatnya tidur."

(Tarikh Baghdad: 22/416)

 

Sakaratul maut adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun, baik yang kuat maupun yang lemah, yang berkuasa maupun rakyat jelata.

 

Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu telah menggambarkan betapa dahsyatnya proses ini, lebih menyakitkan dari segala siksaan fisik yang bisa dibayangkan manusia.

Namun, banyak orang tetap lalai dan menganggap kematian masih jauh. Mereka sibuk mengejar dunia, mengumpulkan harta, dan mencari kenikmatan tanpa memikirkan bekal untuk menghadapi kematian yang pasti datang. Padahal, jika seseorang menyadari betapa pedihnya sakaratul maut, ia tidak akan lagi bisa menikmati dunia dengan tenang, tidak akan nyenyak dalam tidurnya, dan tidak akan larut dalam kesenangan yang fana.

Maka, yang paling penting bukanlah bagaimana menghindari kematian, karena itu sesuatu yang mustahil, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Setiap hari yang kita jalani adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan semakin mendekat kepada Allah . Sebab, kita tidak pernah tahu kapan ajal akan datang, apakah dalam keadaan beribadah atau dalam kelalaian.

 

Sakaratul maut adalah ujian terakhir sebelum seseorang memasuki kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Jika seseorang telah menyiapkan dirinya dengan keimanan yang kuat dan amal yang baik, maka insyaallah perjalanannya akan lebih ringan.

 


Namun, jika hidupnya dihabiskan dalam kesia-siaan dan lalai dari mengingat Allah , maka sakaratul maut akan menjadi awal dari penderitaan yang lebih besar.

Oleh karena itu, sebelum waktu itu tiba, kita harus menjadikan hidup ini sebagai bekal untuk perjalanan yang tak terelakkan, agar ketika saatnya datang, kita dapat kembali kepada-Nya dalam keadaan sebaik-baiknya, yaitu dalam keadaan husnul khatimah.



 
(Sumber tulisan diambil dari kajian "Sakaratul Maut dan Perjalanan Setelah Kematian - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.", Sabtu, 01 Muharram 1442 Hijriah / 13 Agustus 2020 Masehi)